Cerita Inspirasi I

Nama : Ryan Akbar Prayogi

Nrp : F14100151

Laskar : 15

Cerita berikut diambil dari kisah nyata tragedi pesawat Challenger. Kisah nyata ini semoga dapat menjadi sumber motivasi bagi anda semua yang mungkin saat ini belum mencapai apa yang anda inginkan atau sedang mengalami sesuatu yang mungkin tidak anda inginkan. Anda pun sebetulnya mempunyai cerita kehidupan anda sendiri, tuliskanlah dalam buku kehidupan anda sebagai cerita motivasi bagi anda, anak-anak anda nantinya, atau teman-teman anda.

Kesaksian Hidup dibalik Meledaknya Pesawat Luar Angkasa Challenger, USA.

Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot. Namun, sesuatu pun terjadilah.

Gedung putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan! Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku.

Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center. Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara.
Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini?
Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa.

Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam? Aku berpaling pada ayahku. Katanya, “Semua terjadi karena suatu alasan.”

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku? Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang. Aku teringat kata-kata ayahku,
“Semua terjadi karena suatu alasan.”

Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini.
Aku memiliki misi lain dalam hidup.
Aku tidak kalah; aku seorang pemenang.
Aku menang karena aku telah kalah.
Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.

Kita dapat menyimpulkan bahwa kita tidak boleh berburuk sangka kepada Tuhan, karena segala sesuatu yang Tuhan berikan untuk kita adalah yg terbaik.

Comments

Cerita Inspirasi II

Nama: Ryan Akbar Prayogi

Nrp: F14100151

Laskar: 15

Cerita ini berkisah pada saat saya berada di kelas 2 SMP. Sejak Menginjakan kaki di bangku SD saya memang aktif di ekskul pramuka, setelah saya keluar dari bangku SD dan masuk di SMP pun saya masih aktif dan bisa dibilang lebih aktif dari yang sudah-sudah.

Saat mulai masuk kelas 1 saya sudah menunjukkan keseriusan saya di pramuka kepada senior-senior saya, akhirnya hari demi hari berlalu dan akhirnya saya naik ke kelas 2 dan saya dipercaya untuk masuk ke dalam regu inti di sekolah saya. Tetapi karena terlalu aktif di pramuka, semua pelajaran saya tercecer dan hasil nya pada pembagian raport semester 3 (kelas 2 semester pertama), nilai saya anjlok dan bisa dibilang hampir tidak memenuhi syarat untuk naik kelas jika saat itu waktu untuk kenaikan kelas. Kedua orang tua saya marah besar dan memerintahkan saya untuk keluar dari ekskul pramuka dan memperbaiki nilai saya di semester mendatang.

Saya sangat kecewa karena saya harus keluar dari ekskul tersebut. Lambat laun akhirnya saya bisa ikhlas dan saya mengambil sisi positif dari semua hal yang sudah terjadi. Akhirnya saya bertekad untuk membuat orang tua saya bangga dengan memperbaiki nilai raport yang sudah tercoreng. Saya belajar dan berdo’a setiap waktu, meminta kepada Allah untuk semua hal yang terbaik untuk kehidupan saya dan akhirnya pada semester 4 saya berhasil memperbaiki nilai raport saya dan saya berhasil masuk dalam posisi 5 besar di kelas saya. Saya puas karena bisa membanggakan serta membuat kedua orang tua saya tersenyum kembali.

Sebenarnya bukanlah penyesalan saat saya keluar dari ekskul pramuka yang dapat kita ambil dari cerita diatas, tetapi bagaimana kita harus tetap berfikir positif disaat keadaan yang sangat menekan kita pada suatu waktu. Karena jika kita berfikir positif maka apa yang akan terjadi nanti adalah hal-hal yang positif, namun sebaliknya jika kita berfikir negatif maka apa yang akan terjadi di kemudian hari adalah hal-hal yang negatif untuk kita pastinya.

Comments